Senin, Agustus 08, 2016

Desa Bulung.....memiliki Sejarah

*      Sejarah Desa Bulung

Sejarah adalah hal yang tidak dapat terlepas dalam hidup, karena sejarah yang terjadi memberikan pengaruh yang kuat serta membentuk kehidupan dimasa sekarang. Seperti sebuah kata yang tidak asing “Jas Merah” Jangan sekali-kali melupakan sejarah adalah pesan dari Sang Presiden pertama Indonesia, untuk mengingatkan para penerus Bangsa, tentang pentingnya mengetahui dan menelaah sejarah yang terjadi dimasa lampau. 
Desa Bulung, merupakan Desa yang memiliki kekayaan sejarah yang menarik untuk dipelajari. Mulai dari asal usul nama Desa Bulung, Kisah Rumah tertua, Bhujuk 25 dan Sumur Keramat Bulung. Dalam ulasan singkat Sejarah Desa Bulung, Penulis akan memaparkan cerita sejarah berkenaan dengan beberapa poin diatas yang didapat dari wawancara langsung dengan warga Desa Bulung. Cerita sejarah yang ada di Desa Bulung adalah salah satu contoh cerita sejarah yang diturunkan melalui mulut ke mulut atau dapat disebut sebagai sastra lisan.

Asal – usul Nama Desa Bulung
Bulung, kata yang mungkin terdengar sedikit aneh bagi orang yang pertama kali mendengarnya, mengetahui ternyata kata tersebut adalah nama sebuah Desa di kecamatan Klampis. Kata Bulung sebelum ditetapkan menjadi nama dari Desa, merupakan nama dari sebuah pohon yaitu Pohon Bulung. Pohon Bulung tersebut dahulunya tumbuh subur diseluruh penjuru daerah Desa. Pohon Bulung yang digambarkan oleh warga, adalah pohon yang mirip dengan pohon kelapa sawit atau hampir seperti pohon kurma. Pohon Bulung memiliki buah yang lebat, tetapi menurut keterangan warga buah dari pohon ini tidak dapat dikonsumsi karena rasanya yang sangat pahit. Buah Bulung ini dahulu konon digunakan sebagai racun tikus dan ulat. Seiring berjalannya waktu, pohon Bulung ini punah karena banyak ditebang oleh masyarakat dengan alasan kurangnya manfaat yang dimiliki. Menurut keterangan masyarakat, pohon Bulung merupakan pohon yang menyeramkan dan dipercayai masyarakat sebagai tempat bersemayamnya Jin. Sedikitnya terdapat 3 pohon Bulung yang masih tersisa di Desa Bulung hingga saat ini.

Bhujuk  Seghemi’
 Dibalik asal usul pohon Bulung, terdapat pula cerita tentang Bhujuk Segehemi’ yang hampir diketahui oleh penjuru Desa Bulung bahkan sampai ke luar Desa. Bhujuk Seghemi’ terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Madura, Bhujuk yang berarti Makam dan Seghemi’ berarti dua puluh lima (25) dalam bahasa Indonesia. Bhujuk Seghemi’ kemudian bukan dimaksudkan tentang makam yang berjumlah 25. Tetapi kisah tentang sepasang suami istri yang memiliki anak berjumlah 25. Dimana seluruh anak dari pasangan suami bernama Markan dan Istri bernama Futima, adalah anak-anak yang hampir seluruhnya menjadi Tokoh Agama atau masyarakat menyebutnya sebagai para Wali yang berperan penting dalam penyebaran Agama Islam.

Sumur Keramat Bulung
Dibalik berbagai macam kisah menarik nara sumber juga memaparkan adanya kisah dari dua sumur keramat yang terdapat di Desa Bulung. Yang pertama adalah Somor Loar (Sumur Luar). Sumur Luar ini ditemukan oleh Bhujuk Entel, salah satu Wali yang termasuk keturunan Bhujuk Seghemi’. Konon, sumur luar ini terpancar saat Sang Wali kesulitan mencari air untuk berwudlu seketika Beliau menancapkan tongkatnya kemudian mengalirlah air tersebut. Sumur luar tersebut masih ada hingga saat ini, yang dimanfaatkan para warga Dusun Ambat untuk mandi dan keperluan mencuci.

Somor Kategen (Sumur Tega), dijuluki sumur tega karena menurut keterangan warga, siapa saja yang meminum air dari sumur ini akan menjadi seseorang yang tega. Tega untuk melakukan apapun, atau dapat dikatakan orang yang meminumnya akan menjadi orang yang tidak takut pada apapun. Pada masanya, sumur ini dimanfaatkan oleh para warga untuk diberikan kepada suami yang diselingkuhi istrinya namun tidak berani untuk mencerai ataupun melawan lelaki idaman lain dari si istri. Keluarga suami akan memberikan air sumur tersebut untuk diminum, hingga kemudian sang suami menjadi berani untuk melawan lelaki idaman lain yang dimiliki sang istri dengan cara kekerasan bahkan membunuhnya dengan cara sadis atau yang biasa disebut Carok di Madura. Untuk itu, air dari sumur ini disebut sebagai air iblis oleh masyarakat Desa Bulung. Mengaca dari kemudharatan yang lebih banyak dibanding manfaatnya, sumur ini kemudian ditutup dan diamankan oleh Kepala Desa.

0 komentar:

Posting Komentar